PRAKTIKUM
I
DIFUSI
DAN PLASMOLISIS
A. JUDUL :
1.
Difusi
2.
Plasmolisis pada sel
epidermis Rhoeo discolor
B. TUJUAN :
1.
Mengamatai
terjadinya difusi
2.
Mengamati
terjadinya plasmolisis dan deplasmolisis pada daun Rhoeo discolor.
C.
DASAR TEORI
1.
Difusi
Difusi adalah peristiwa di mana terjadi
tranfer materi melalui materi lain. Transfer materi ini berlangsung karena atom
atau partikel selalu bergerak oleh agitasi thermal. Walaupun sesungguhnya gerak
tersebut merupakan gerak acak tanpa arah tertentu, namun secara keseluruhan ada
arah neto dimana entropi akan meningkat. Difusi merupakan proses irreversible.
Pada fasa gas dan cair, peristiwa difusi mudah terjadi; pada fasa padat difusi
juga terjadi walaupun memerlukan waktu lebih lama. (Sudaryatno, 2009).
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi,
yaitu :
a. Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel,
semakin cepat partikel itu akan bergerak, sehinggak kecepatan difusi semakin
tinggi.
b. Ketebalan membran. Semakin tebal membran, semakin
lambat kecepatan difusi.
c. Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin
cepat kecepatan difusinya.
d. Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi,
semakin lambat kecepatan difusinya.
e. Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi
untuk bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya.
Semua zat terdiri atas partikel-partikel yang sangat
kecil yang bergerak terus menerus secara acak-acakan.
Main tinggi suhunya makin cepat gerakan partikel-partikel tersebut. Dari
penelitian-penelitian yang pernah dilakukan ternyata ada kecenderungan bergerak
dari satu tempat yang konsentrasinya tinggi ke tempat lain yang konsentrasinya
lebih rendah, proses ini disebut difusi. Proses ini juga terjadi sebagai akibat
adanya mobilitas dan energi kinetik dari molekul atau ion yang mengadakan
difusi tersebut.
Arah gerak molekul dalam larutan atau gas
tidak tertentu karena adanya hantaman molekul air atau dari gas lain. Arah
gerak molekul ini mengikuti gerak Brown, atau geraknya dinamakan “Random Walk”.
Difusi zat cair dan gas ternyata lebih cepat dari pada zat padat. Makin besar
perbedaan konsentrasi antara dua daerah, makin cepat proses difusi. Banyak
zat-zat terlarut dapat masuk atau keluar dari sel-sel hidup karena protoplasma
bersifat kobid mirip dengan agar-agar dan permeable. Difusi maupun arus massa
oleh gaya dorong yang dapat terjadi akibat adanya perbedaan potensial
(temperature, listrik, terjadi adanya tekanan hidrolik, konsentrasi, dan
sebagainya) yang mengarah dari tempat dengan potensial tinggi ke tempat dengan
potensial lebih rendah.
2.
Plasmolisis
Plamolisis
adalah kondisi dimana suatu sel
tumbuhan diletakkan di larutan garam terkonsentrasi (hipertonik). Akibatnya
cairan yang ada di dalam sel keluar dari sel, sehingga tekanan sel terus
berkurang sampai di suatu titik dimana membran sel terlepas dari dinding sel.
Plasmolisis
adalah contoh kasus transportasi sel secara osmosis dimana terjadi perpindahan
larutan dari kepekatan yang rendah ke larutan yang pekat melalui membran semi
permeable.
Plasmolisis
merupakan dampak dari peristiwa osmosis Jika sel tumbuhan diletakkan di larutan
garam terkonsentrasi, sel tumbuhan akan kehilangan air dan juga tekanan turgor,
menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan sel dalam kondisi seperti ini
layu. Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan terjadinya plasmolisis:
tekanan terus berkurang sampai di suatu titik di mana protoplasma sel
terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan
membran.
Plasmolisis
hanya terjadi pada kondisi ekstrem, dan jarang terjadi di alam.
Biasanya terjadi secara sengaja di
laboratorium dengan meletakkan sel pada larutan bersalinitas tinggi atau
larutan gula untuk menyebabkan ekosmosis, seringkali menggunakan tanaman Elodea
atau sel epidermal bawang yang memiliki
pigmen warna sehingga proses dapat diamati dengan jelas.
Jika
Defisit Tekanan Difusi (DTD) didalam suatu sel lebih rendah dari pada DTD
larutan yang berada disekitar sel maka air akan meninggalkan sel, sampai DTD
didalam dan diluar sama besar. Protoplas yang kehilangan air ini akan menyusut
volumenya dan akhirnya dapat terlepas dari dinding sel. Apabila suatu sel
diletakan pada suatu larutan yang hipertonis terhadap sitoplasma, maka air yang
ada dalam sel akan berdifusi keluar sehingga sitoplasma mengkerut dan terlepas
dari dinding sel. Peristiwa ini disebut plasmolosis. Terlepasnya protoplas dari
dinding sel disebaban oleh penyusutan atau pengurangan volume, karena cairan di
dalam protoplas sudah menjadi lebih pekat dan karenanya berpotensial osmotic
lebih negatif.
Sel yang mengalami plasmolisis biasanya dapat
“disehatkan lagi” dengan memasukkan kedalam air murni. Sel dalam keadaan
plasmolisis mempunyai DTD dan TO yang tinggi, dan sebaliknya T.T menjadi
negatif. Peristiwa pembalikkan dari keadaan plasmolisis disebut deplasmolisis.
D.
ALAT DAN BAHAN
1.
Difusi
a)
Alat : Gelas piala, Pipet tetes, Pengaduk
b) Bahan : Kristal CuSO4, Larutan metilin blue, Aquades
2.
Plasmolisis
a) Alat : Mikroskop,Gelas piala, Gelas penutup, Silet, Stopwatch
b)
Bahan :
Daun Rhoeo discolor, Larutan sukrosa 21%, Aquades, Kertas pengisap (kertas saring)
E.
PROSEDUR KERJA
1. Difusi
a.
Mengisi gelas piala
dengan aquades lebih kurang 100 ml
b.
Meneteskan kira-kira 10
tetes larutan metilin blue ke dalam
gelas piala I yang berisi aquades. Mengamati
penyebaran warna biru dari metilin blue. Sebelumnya (menyiapkan stopwatch).
c.
Mencatat berapa lama
waktu yang diperlukan dari warna dari metilin blue merata.
d.
Melakukan percobaan
diatas dengan menggunaan kristal CuSO4 sebanya 1 sendok spatula.
e.
Mengulangi percobaan
dengan metilin blue dan CuSO4 dengan ukuran yang sama seperti
semula, tetapi setelah itu larutan segera diaduk. Melakukan percobaan ini satu
persatu. Apa yang terjadi ?
f.
Kesimpulan apa yang didapatkan
dari percobaan ini.
2. Plasmolisis
a.
Menyayat bagian
permukaan daun Rhoeo discolor yang
berwarna ungu kemerahan setipis mungkin.
b.
Meletakan sayatan pada
kaca obyek yang telah ditetesi aquades dan menutup dengan kaca penutup.
c.
Mengamati dibawah mikroskop.
Apabila sel-sel daun Rhoeo discolor
sudah tampak jelas, meneteskan larutan gula 21 % pada salah satu tepi gelas
penutup dan pada tepi yang lain menempelkan kertas penghisap sehingga aquades
akan tertarik oleh kertas penghisap dan medium sayatan digantikan oleh larutan
gula 21 %.
d.
Mengamati dengan
mikroskop selama lima menit. Mencatat dan menggambar semua perubahan yang
terjadi terutama waktu terjadinya plasmolisis.
e.
Mengganti larutan gula
dengan aquades. Caranya seperti langkah kerja diatas.
f.
Mengamati, mencatat dan
menggambar terjadinya deplasmolisis.
g.
Mengambil kesimpulan
apa yang dapat diambil dari percobaan ini.
E. HASIL
PENGAMATAN
1. Difusi
Larutan Metilin Blue |
Kristal CuSO4 |
|||||||||||
|
|
||||||||||||
|
No
|
Larutan
|
Perlakuan
|
Waktu (s)
|
|
1.
|
Metilin Blue
|
Diaduk (a)
|
0:00:23.49
|
|
|
|
Tidak diaduk (b)
|
0:05:19.20
|
|
2.
|
CuSO4
|
Diaduk (a)
|
0:00:40.15
|
|
|
|
Tidak diaduk (b)
|
0:10:45.10
|
2.
Plasmolisis
|
Sebelum ditetesi Sukrosa
|
Sesudah ditetesi Sukrosa
|
![]()
Perbesaran 10 x 10
|
![]()
Perbesaran 10 x 10
|
F.
PEMBAHASAN
1.
Difusi
Difusi adalah
gerakan pasif molekul dalam larutan yang berkonsentrasi tinggi ke yang
berkonsentrasi lebih rendah (Rifai, Mien. A. 2002). Molekul memiliki energi
kinetik intrinsik yang disebut gerak termal (kalor). Suatu akibat gerak termal
ialah difusi, kecenderungan molekul setiap zat untuk menyebar ke seluruh
ruangan yang ada (Campbell, 2002 : 147). Dalam ketiadaan gaya-gaya lain, suatu
substansi akan berdifusi dari tempat yang konsentrasi tinggi ke tempat yang
konsentrasinya lebih rendah. Dengan kata lain, setiap substansi berdifusi menuruni
gradient konsentrasinya,
Difusi merupakan proses spontan karena difusi
itu menurunkan energi bebas. Dalam setiap system terdapat suatu kecenderungan
untuk meningkatkan entropi, atau ketidakteraturan. Difusi zat terlarut dalam
air meningkatkan entropi dengan menghasilkan campuran yang lebih acak daripada
ketika terdapat konsentrasi zat terlarut yang terlokalisir (Campbell, 2002 :
147).
Difusi suatu
substansi melintasi membrane biologis disebut transport pasif, karena sel tidak
harus mengeluarkan energi untuk membuat difusi terjadi. Difusi zat cair dapat
ditunjukkan dengan percobaan ini, dari percobaan tersebut diperoleh bahwa
apabila kita meneteskan laruatan metylene blue dan memberi Kristal CuSO4
ke dalam tabung yang berisi air tersebut, maka warna metylene blue dan Kristal
CuSO4 tersebut akan menyebar dari tempat tetesan awal (konsentrasi
tinggi) ke seluruh air dalam tabung (konsentrasi rendah) sampai terjadi
keseimbangan. Keseimbangan ini disebut dengan keseimbangan dinamik, yaitu
molekul pewarna dan krital CuSO4 yang melintasi membrane dalam satu
arah jumlahnya sebanyak molekul pewarna yang melintasi membrane dalam arah yang
berlawanan setiap detik (Campbell, 2002 : 147) atau dalam percobaan dapat dikatakan
bahwa pergerakan metylene bled an krital CuSO4 menyebar ke seluruh
bagian air sama besarnya dengan pergerakan air.
Pada percobaan
yang telah dilakukan dengan menggunakan tabung difusi zat cair didapat bahwa
larutan metylene blue dan Kristal CuSO4 tersebut setelah diletakan
ke dalam tabung yang berisi air langsung menyebar secara perlahan larutan
metylene blue menempuh jarak kurang lebih tertentu dalam selang waktu 5 menit sedangkan
larutan metylene blue yang diaduk hanya memelukan waktu 23 detik proses penyebarannya terjadi lebih cepat
karena dengan adanya goncangan yang terjadi sehingga didalam larutan maka
proses penyebarannya lebih cepat. Sedangkan Kristal CuSO4 yang diletakan di dalam aquades proses
kelarutannya lebih lamban dibandingkan dengan larutan metylene blue itu
desabkan karna kosentrasi kosentrasi
Kristal CuSO4 lebih kecil dibandingkan dengan kosentrasi larutan
metylene blue yang di berikan pada aquades, semakin besar konsentrasi maka
kelarutannya pun semakin besar sehingga dapat lebih larut dalam air atau lebih
cepat berdifusi dan begitu pula sebaliknya.
Hal-hal yang
dapat mempengaruhi difusi antara lain yaitu :
- Berat molekul semakin besar maka difusi semakin lambat
- Kelarutan dalam medium, semakin besar kelarutan difusi semakin cepat
- Beda potensial kimia, makin besar bedanya semakin cepat difusi terjadi.
- Perbedaan Konsentrasi, makin besar perbedaan konsentrasi antara dua bagian, makin besar proses difusi terjadi.
- Jarak tempat berlangsungnya difusi, makin dekat jarak tempat terjadinya difusi, makin cepat proses difusi berlangsung.
- Area tempat berlangsungnya difusi, makin luas area difusi makin cepat proses difusi
- Struktur tempat berlangsungnya difusi, adanya pori-pori pada membrane maningkatkan proses difusi. Makin banyak jumlah pori makin meningkatkan proses difusi.
- Ukuran dan tipe molekul yang berdifusi, molekul yang lebih kecil berdifusi lebih cepat.
2. Plasmolisis
Dari
hasil pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan preparat segar yaitu sayatan
tipis epidermis daun Rhoeo discolor
(Adam dan Hawa). Rhoeo mempunyai
jaringan yang terdiri dari sel-sel yang bentuknya sama dapat juga melakukan
fungsi khusus yang dapat juga bersama jaringan lain membentuk fungsi yang lebih
kompleks. Pertumbuhan darai tana,mn ini sangat penting pada aktivitas jaringan
meristem. Dan jaringanya terbagi dua yang berdasarkan kemampuan untuk tumbuh
dan memperbanyak diri yaitu jaringan meristem dan jaringan yang permanen
(Sastrodinoto,1980).
Pada pengamatan yang dilakukan sebelum
ditetesi sukrosa 21% terlihat sel-sel yang berwarna ungu yang terbentuk karena
adanya pigmen warna anthocian pada daun Rhoe
discolor tersebut. Setelah itu digunakan larutan sukrosa 21% yang berperan sebagai larutan hipertonic
terhadap sel dengan mengamati perubahan yang terjadi selama 15 menit. Ada
beberapa sel yang telah terplasmolisis dan sebagian tidak terplasmolisis. (Jane
B. Reech.2003.Campblle edisi kelima. Jakarta:Erlangga).
Sel-sel yang berwarna ungu terlihat lebih sedikit
dan kloroplas lebih jelas terlihat. Hal ini terjadi karena pada saat sel
ditempatkan pada larutan yang hipertonis terhadapnya, maka air keluar dari
vakuola sehingga membrane sitoplasma akan mengerut begitu pula sitoplasma, dan
secara otomatis juga ukuran vakuola. Sehingga pigmen antosianin dari dalam
vakuola tidak terlalu jelas terlihat. Saat sitoplasma mengkerut , kloroplas
yang tersebar di dalam sitoplasma akan merapat sehingga dapat terlihat jelas.
Menurut
Tjitrosomo (1987) jika sel dimasukan ke dalam larutan gula, maka arah gerak air
ditentukan oleh perbedaan nilai potensial air larutan dengan nilainya didalam
sel. Jika potensial larutan lebih tinggi, air akan bergerak dari luar ke dalam
sel, bila potensial larutan lebih rendah maka yang terjadi sebaliknya, artinya
sel akan kehilangan air. Apabila kehilangan air itu cukup besar, maka ada
kemungkinan bahwa volum sel akan menurun demikian besarnya sehingga tidak dapat
mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Membran dan sitoplasma
akan terlepas dari dinding sel. Sel epidermis daun Rhoeo discolor yang
dimasukan ke dalam larutan sukrosa mengalami plasmolisis. Semakin tinggi
konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis.
G.
KESIMPULAN
1.
Difusi
Difusi adalah proses yang
menyebabkan senyawa kimia tertentu ditransport secara spontan dari satu daerah
ke daerah lain sehingga terjadi keseimbangan.
Proses ini terjadi sebagai akibat adanya mobilitas dan energi kinetik
dari molekul atau ion yang mengadakan difusi tersebut.
2.
Plasmolisis
Plamolisis
adalah kondisi dimana suatu sel
tumbuhan diletakkan di larutan garam terkonsentrasi (hipertonik). Akibatnya
cairan yang ada di dalam sel keluar dari sel, sehingga tekanan sel terus
berkurang sampai di suatu titik dimana membran sel terlepas dari dinding sel.
H.
JAWABAN TUGAS
1.
Berdasarkan hasil
pengamatan pada pernyataan diatas, apakah pengadukan bisa mempengaruhi
kecepatan difusi ? jelaskan jawaban anda.
Jawab :
Ya, karena dengan adanya
pengadukan pada larutan akan mempengaruhi kecepatan difusi. Sehingga
partikel-partikel cenderung dapat bergerak cepat dari suatu tempat yang
berkosentrasi tinggi ke kosentrasi rendah.
2.
Jelaskan dengan kata-kata sendiri, apa yang
dimaksud dengan plasmolisis dan deplasmolisis ?
Jawab :
Plasmolisis merupakan proses mengerutnya protoplasma yang
diikuti dengan penarikan sitoplasma dari dinding sel karena gerakan air keluar
sel. Sedangkan deplasmolisis merupakan pengembalian keadaan sel pada keadaan
sebelum terjadinya plasmolisis.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang. 2006. Biologi. Jakarta : Erlangga
Campbell, Neil A, Reece, Jane B, G. Mitchell, Lawrence, Alih bahasa,
Rahayu Lestari…[et al.].1999. BIOLOGI. Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Chang, Raymond.2005.Kimia Dasar “Konsep-Konsep Inti”.Edisi
kelima. Jilid 1.Jakarta : Erlangga
Fiktor Ferdinand P. dan Moekti Ariwibowo.2007. Praktis Belajar Biologi.Jakarta:Visindo Media Persada
Hian. 2009. Proses difusi.
(Online) tersedia di http://aslikoe.blogspot.com/2009/09/proses-difusi.html. (Diunduh
Senin, 12 Maret 2012)
Jane B. Reech.2003. Campblle edisi kelima. Jakarta : Erlangga
Kaseng, Ernawati dkk. 2006.BIOLOGI. Jakarta : Widya Utama
Rifai, Mien. A. 2002. Kamus Biologi. Jakarta : Balai Pustaka




Tidak ada komentar:
Posting Komentar